Penulis Topik: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy  (Dibaca 22419 kali)

Offline 3ndiixz

  • Admin
  • Pro500
  • *****
  • Tulisan: 1.534
  • Reputation: 947
  • Jenis kelamin: Pria
  • .:: DOCTOR PENDIK ::.
    • Lihat Profil
    • PENDIK ASYIK KOMPUTER
Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« pada: Januari 18, 2012, 08:31:13 PM »
Produksi Oleh : PT. Gentabuana Pitoaloka (bekerja sama dengan Cho Cho Studio Beijing untuk pengambilan gambar di Cina)




 Dikemas dalam 27 Judul VCD dgn kualitas Layar Lebar :

 1. Kidung Cinta Arya Kamandanu
 2. Wasiat Mpu Gandring
 3. Pelangi di Langit Singasari
 4. Pedang Naga Puspa
 5. Pertarungan di Candi Sorabhana
 6. Kembang Gunung Bromo
 7. Balada Cinta Mei Shin
 8. Satria Majapahit
 9. Bunga Tunjung Biru
 10. Ayu Wandira
 11. Prahara di Gunung Arjuno
 12. Senjakala di Kediri
 13. Mahkota Majapahit
 14. Tragedi di Majapahit
 15. Jurus Naga Puspa
 16. Misteri Keris Penyebar Maut
 17. Pengorbanan Mei Shin
 18. Pendekar Syair Berdarah
 19. Dendam Arya Dwipangga
 20. Korban Birahi
 21. Prahara Naga Krisna
 22. Karmaphala
 23. Wanita Persembahan
 24. Pangeran Buron
 25. Pemberontakan Nambi
 26. Pemberontakan Ra Semi
 27. Gajah Mada

 Disutradarai oleh : Muchlis Raya & Prof. Mu Tik Yen (Khusus pengambilan gambar di Cina)
 Penulis Skenario : Imam Tantowi

 Dibintangi oleh :

 - Anto Wijaya sebagai Arya Kamandanu
 - Lie Yun Juan sebagai Mei Shin
 - Piet Ermas sebagai Arya Dwipangga
 - Murti Sari Dewi sebagai Sakawuni

 Didukung Oleh :

 - Syaiful Anwar sebagai Mpu Tong Bajil
 - Anika Hakim sebagai Dewi Sambi
 - Lamting sebagai Lo Shi Shan
 - Agus Kuncoro sebagai Raden Wijaya
 - Chairil JM sebagai Mpu Ranubhaya
 - Hendra Cipta sebagai Mpu Hanggareksa
 - Wingky Harun sebagai Ki Tamporoang
 - Dian Sitoresmi sebagai Nini Ragarunting
 - Lilis Suganda sebagai Dewi Tunjung Biru
 - Herbi Latul sebagai Ranggalawe
 - Candy Satrio sebagai Nambi
 - Rendi Bramasta sebagai Banyak Kapuk
 - Piet Pangau sebagai Jayakatwang
 - Rizal Muhaimin sebagai Ardharaja
 - Devy Zulianty sebagai Nari Ratih
 Dan masih banyak artis lainnya.

 Selamat berburu VCD nya di kota Anda....! Tersedia juga soft filenya di Youtube atau page Tutur Tinular Produksi 1997.
« Edit Terakhir: Januari 18, 2012, 08:34:48 PM oleh 3ndiixz »

Offline 3ndiixz

  • Admin
  • Pro500
  • *****
  • Tulisan: 1.534
  • Reputation: 947
  • Jenis kelamin: Pria
  • .:: DOCTOR PENDIK ::.
    • Lihat Profil
    • PENDIK ASYIK KOMPUTER
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #1 pada: Januari 18, 2012, 08:38:01 PM »


aq suka dengan yang ini

Griffiths Anna

Offline 3ndiixz

  • Admin
  • Pro500
  • *****
  • Tulisan: 1.534
  • Reputation: 947
  • Jenis kelamin: Pria
  • .:: DOCTOR PENDIK ::.
    • Lihat Profil
    • PENDIK ASYIK KOMPUTER
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #2 pada: Januari 18, 2012, 08:53:26 PM »




Petualangan sepasang pendekar sakti dari negeri China yaitu Lo Shi Shan dan Mei Shin dalam menyelamatkan pedang Naga Puspa dari tangan Kaisar Kubilai Khan akhirnya membawa mereka ke tanah Jawa. Perjalanan mereka di tanah Jawa dalam menemukan pewaris Pedang Naga Puspa ternyata tidak berjalan mulus. Apalagi dari fisik dan penampilan mereka bisa langsung dikatahui bahwa mereka adalah orang asing. Ditambah lagi dengan senjata sakti yg mencolok di punggung Lo Shi Shan dan kecantikan Mei Shin yg menggoda setiap pria makin menjadikan mereka incaran empuk para pendekar berwatak jahat.

 Tapi untung saja beberapa kali mereka bisa lolos dari bahaya berkat kemampuan silat mereka yg di atas rata2 dan bantuan diam2 dari seorang pendekar wanita misterius yg memperkenalkan dirinya sebagai "Lengan Seribu".

 Berita kemunculan Lo Shi Shan dan Mei Shin dengan pedang pusaka Naga Puspa akhirnya sampai juga pada kelompok pendekar berwatak jahat dari Gelang Gelang yaitu Mpu Tong Bajil dan Dewi Sambi yg ingin menguasai pedang tersebut.

 Dalam sebuah pertarungan antara Lo Shi Shan dan Mei Shin melawan Tong Bail, Dewi Sambi dan kelompoknya, Lo Shi Shan terluka parah terkena Aji Segoro Geni milik Tong Bajil. Mereka berdua akhirnya ditolong oleh Arya Kamandanu dan dibawa beristirahat di sebuah Candi.

 Beberapa hari dalam kesakitan, akhirnya Lo Shi Shan menghembuskan nafas terakhir setelah menitipkan Mei Shin kepada Kamandanu.

 Mei Shin sangat berduka atas kematian Lo Shi Shan dan merasa terasing di negeri orang. Pernah dia mencoba untuk bunuh diri, tapi digagalkan oleh Kamandanu. Kamandanu yg awalnya dingin dengan wanita akhirnya mau bercerita menghibur Mei Shin.

 Mei Shin akhirnya punya semangat hidup lagi setelah berulang kali dihasehati oleh Kamandanu. Kamandanu pun demikian, karena Mei Shin akhirnya dia kembali bangkit dari kekecewaan atas penghianatan yg pernah dilakukan Nari Ratih dan Dwipangga.

 Lambat laun kebersamaan mereka berdua akhirnya menumbuhkan benih2 cinta di antara mereka. Kamandanu yg sekarang sudah lebih dewasa akhirnya berani bilang CINTA kepada Mei Shin.

 Itulah sepenggal sinopsis kisah ASLI Tutur Tinular. Nanti lanjutannya akan admin ceritakan lagi.
 Jangan lupa NOVELnya dibaca juga ya.

https://www.facebook.com/Tutur.Tinular.Versi.2011
« Edit Terakhir: Januari 18, 2012, 09:34:20 PM oleh 3ndiixz »

Offline fajar234

  • Pro100
  • ****
  • Tulisan: 178
  • Reputation: 210
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Simpel Tapi Menarik
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #3 pada: Januari 18, 2012, 08:54:35 PM »
film laga nih, gada yg kaya gini di bioskop. Langka. Nonton yutub ahh

Offline 3ndiixz

  • Admin
  • Pro500
  • *****
  • Tulisan: 1.534
  • Reputation: 947
  • Jenis kelamin: Pria
  • .:: DOCTOR PENDIK ::.
    • Lihat Profil
    • PENDIK ASYIK KOMPUTER
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #4 pada: Januari 18, 2012, 09:19:07 PM »
asyik asyik asyik  :D  :D  :D  :D

Offline 3ndiixz

  • Admin
  • Pro500
  • *****
  • Tulisan: 1.534
  • Reputation: 947
  • Jenis kelamin: Pria
  • .:: DOCTOR PENDIK ::.
    • Lihat Profil
    • PENDIK ASYIK KOMPUTER
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #5 pada: Januari 21, 2012, 05:16:23 PM »
Novel TUTUR TINULAR 3 - Nurani yang Tercabik (7)

oleh TUTUR TINULAR VERSI 2011 pada 19 Januari 2012 pukul 20:58

Penulis : Buanergis Muryono & S. Tidjab

Malam merayap semakin larut, Arya Kamandanu sangat bahagia mendapatkan seorang guru yang sangat sabar dan pengertian. Ia duduk bersila ditemani Wirot murid tunggal Mpu Ranubhaya yang setia. Mereka mendengarkan apa yang diucapkan lelaki tua itu dengan saksama. Bunyi kelelawar sesekali memamerkan jeritannya meningkahi suara tetes-tetes air yang jatuh dari langit-langit gua batu payung sebagai tempat pamujanMpu Ranubhaya.

Kemudian lelaki itu memandang kedua muridnya lekatlekat dengan tatapan sangat tajam. Perlahan sekali ia mengangguk-angguk setelah mengusap janggutnya. Suara lelaki tua itu menambah suasana magis dan seram di dalam gua yang hanya berpenerangan pelita.

"Dengar baik-baik, Kamandanu! Ilmu kanura-gan pada dasarnya mempelajari segala sesuatu yang terdapat di dalam raga atau tubuh manusia. Karena itu yang pertama kali perlu dipersiapkan adalah tubuh manusia itu sendiri.

Setelah tubuh siap barulah belajar kuda-kuda yang benar.

Kuda-kuda artinya dalam keadaan siap siaga. Coba, pamanmu Wirot akan memberi contoh kuda-kuda yang bagus " Wirot yang ikut mendengarkan pelajaran kanuragan segera bangkit, lalu berdiri dengan kedua lutut menekuk ke samping. Tangan menyilang di atas dada.

"Nah, itu kuda-kuda yang sudah banyak dikenal orang.

Kuda-kuda erat kaitannya dengan jurus. Jurus adalah suatu rangkaian pukulan yang mengarah pada satu titik kelemahan lawan. Pamanmu Wirot akan memberikan contohnya." Maka dengan lincah dan gesit Wirot melompat, menjotos dan memukul udara kosong dengan sesekali menghempaskan napas untuk menghentakkan seluruh tenaga simpanannya. Ia melompat ke samping, menerjang ke depan dan melentingkan tubuhnya seperti burung srikatan yang ingin menangkap nyamuk. Bibirnya mengatup rapat, kedua tangannya mengepal keras, kakinya selalu menghentak tanah setiap kali ia mengubah posisi kuda-kudanya. Sangat perkasa.

"Yah, cukup,Wirot! Sekarang kalian berdua bisa berlatih di halaman depan gua ini. Kukira tempatnya cukup lega untuk kalian berdua!" Arya Kamandanu segera bangkit dan mengikuti langkahlangkah Wirot yang berjalan menuju halaman gua.

Halaman gua itu cukup luas untuk berlatih beladiri.Mereka segera memasang kuda-kuda berhadapan satu dengan lainnya. Wirot yang lebih dulu memahami apa yang diajarkan gurunya tampak lebih gesit dan trengginas.

Arya Kamandanu menirukan setiap gerak dan pukulanpukulan berantai sebagai rangkaian jurus Naga Puspa.

Mereka berlatih dan berusaha memusatkan hati dan pikiran sepenuhnya pada olah kanuragan. Mereka tidak sadar jika Mpu Ranubhaya mengikuti setiap gerakan jurus-jurus yang telah diciptakannya. Lelaki tua itu tidak mau mengganggu, tidak mau memberikan komentar sebab ia berkeinginan kedua anak asuhnya itu bisa mengembangkan jurus-jurus Naga Puspa paling dasar yang telah diberikannya. Tampak keduanya bersimbah keringat.Mereka tidak menyadari jika telah berlatih habis-habisan.

Demikianlah, malam itu, dan malam-malam berikutnya, Arya Kamandanu sibuk berlatih olah kanuragan dengan ditemani Wirot.

Setahap demi setahap akhirnya Arya Kamandanu mampu menyerap pelajaran ilmu pukulan dua belas jurus milik Mpu Ranubhaya. Pada malam yang kedua puluh satu, Mpu Ranubhaya melihat mereka berlatih di halaman depan gua. Setelah beberapa saat lamanya mengamati,Mpu Ranubhaya berdiri dan bertepuk tangan memberi aba-aba supaya keduanya beristirahat. Wajah lelaki tua itu tampak berseri-seri karena kedua muridnya benar-benar mengalami kemajuan sangat pesat dalam berlatih olah kanuragan.

Namun, ada sesuatu yang sangat mengganjal saat memperhatikan kedua muridnya itu. Lelaki tua itu pun melambaikan tangannya memberi aba-aba agar keduanya mendekat dan memperhatikannya. Ia pandang satu persatu bergantian.

"Cukup! Hentikan dulu latihan kalian. Mari masuk, aku akan bicara dengan kalian berdua." Mpu Ranubhaya membalikkan badannya dan melangkah menuju dalam gua batu payung diikuti kedua muridnya.

Wirot dan Arya Kamandanu saling berpandangan sejenak dan mengangkat bahu sambil mengangkat alis dan tersenyum simpul menahan geli. Mereka melangkah menuju dalam gua beriringan mengikuti jalan Mpu Ranubhaya.

Suasana di dalam gua sungguh mencekam Temaram sinar pelita yang tergantung di dinding gua tidak mampu memberikan penerangan yang cukup. Mereka kemudian duduk berhadap-hadapan di lantai gua yang kering.

"Bagus. Kau sudah menguasai dua belas jurus yang kuajarkan padamu, Kamandanu. Kau tahu nama jurus yang baru saja kau perlihatkan bersamaWirot?”

 “Ehh, tidak, Paman. Saya tidak tahu namanya. Paman Wirot hanya mengatakan pukulan dua Belas jurus." jawab Arya Kamandanu sambil melirik ke arah Wirot "Walaupun sudah lama Wirot mengenal dua belas jenis pukulan beruntun itu, dia pun belumtahu namanya.”

 “Guru tidak pernah memberi tahu namanya pada saya.”

 “Kalau kalian ingin tahu, dua belas jenis pukulan itu merupakan bagian pertama dari jurus Naga Puspa.”

 “Kedengarannya asing nama itu, Guru?" sahut Wirot dengan nada ingin tahu. Ia mengerutkan dahinya.

 "Ya. Memang kedengarannya asing, karena hampir tak ada orang yang mengetahui rahasia ini. Bahkan Paman tahu siapa mereka yang mengenalnya," jelas lelaki tua itu pada muridnya.

"Tapi Guru pernah mengatakan bahwa jurus itu sangat terkenal di kalangan para pendekar," tukas Wirot.

 "Ya, tapi mereka hanya mengenalnya dengan nama pukulan dua belas jurus.”

  “Mengapa hanya dua belas jurus, Paman?" tanya Arya Kamandanu.

 "Sebenarnya jurus Naga Puspa terdiri dari tiga puluh lima jurus. Tiga puluh lima jurus ini dibagi menjadi tiga tahap pelajaran. Dua belas jurus yang pertama adalah tahap awal atau tahap pertama. Isinya hanya olah kanuragan dalam tata lahirnya saja. Bagaimana cara menendang dengan kaki kiri dan bergantian dengan kaki kanan, bagaimana cara menggunakan sikut, lutut kiri kanan, kepalan tangan, telapak kaki untuk menyerang ataupun bertahan. Wirot sudah mahir sekali menggunakan kedua belas jurus itu, walaupun kecepatan geraknya masih perlu ditambah lagi.”

 “Lalu tahap berikutnya, Paman?" tanya Arya Kamandanu.

"Tahap berikutnya merupakan pelajaran yang lebih berat dan rumit. Tahap kedua ini terdiri dari sebelas jurus yang memerlukan persyaratan istimewa bagi orang yang ingin menguasainya.”

 “Persyaratan apa, Guru?" tanyaWirot penasaran.

"Orang itu harus lebih dulu menguasai ilmu meringankan tubuh atau bisa juga disebut Aji Seipi Angin.”

 “Mengapa harus memerlukan persyaratan itu, Paman?" tanya Arya Kamandanu sambil mengubah posisi duduknya.

"Karena untuk memainkan sebelas jurus itu dibutuhkan kecepatan gerak seperti angin. Kecepatan gerak seperti itu tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa yang keberatan membawa tubuhnya sendiri.”

 “Bagaimana dengan Aji Seipi Angin itu, Paman? Apakah susah mempelajarinya?" tanya Arya Kamandanu penuh rasa ingin tahu.

"Dengan kemauan yang keras, tekad membaja, tak ada pelajaran yang susah di muka bumi ini. Untuk bisa menguasai Aji Seipi Angin dibutuhkan latihan pernapasan dan pemusatan pikiran. Ada satu cara yang sangat jitu untuk melatih kedua hal tersebut. Besok malam aku akan memberikan cara itu, untuk kalian coba latih dengan baik." Setelah memberikan nasihat dan petuah secara panjang lebar, kedua murid itu diminta untuk membaringkan badan di lantai gua dengan mata terpejam. Mereka harus melakukan pernapasan dalam. Pernapasan dalam ialah menghirup udara melalui hidung. Setelah itu mereka harus menyimpan udara dengan beberapa kali hitungan.

Kemudian mengembuskannya perlahan-lahan dikeluarkan melalui hidung tanpa mengeluarkan suara dengus dan desah. Hal itu harus dilakukannya berulang-ulang. Setiap kali mereka mengembuskan napas harus penuh ucapan syukur pada Yang Mahakuasa.

Malam berikutnya Arya Kamandanu datang lebih awal dari malam-malam sebelumnya. Wirot dan Mpu Ranubhaya sudah menunggu di halaman depan gua. Kali ini malam terasa lebih menyeramkan. Dada Arya Kamandanu berdebar kencang ketika Mpu Ranubhaya menyuruhnya duduk di atas tumpukan jerami kering.

Pemuda itu diminta untuk memusatkan hati dan pikiran agar bisa berlatih secara total.

Keduanya mengikuti seluruh perintah Mpu Ranubhaya yang berdiri tegak bagaikan patung. Hanya bibirnya yang tampak bergetar dan bergerak-gerak setiap memberi aba-aba pada kedua muridnya.

Getaran-getaran suaranya bergema menggaung pada dinding-dinding karang di seputar gua batu payung.

Suaranya agak serak dan parau namun penuh kewibawaan seorang yang memiliki karisma.

"Nah, kalian sudah siap?”

 “Sudah, Guru.”

 “Sudah, Paman.”

 “Aji Seipi Angin ini dulu pernah diajarkan oleh almarhum guruku yang bernama Mpu Sasi. Beliau tidak pernah bepergian naik kuda atau kereta, tapi beliau selalu sampai di tempat yang dituju lebih awal dari temantemannya.

Hal itu karena beliau berjalan dengan menggunakan kemampuan ilmu tersebut. Kamandanu dan kau Wirot Tiga hari yang lalu aku menyuruh agar kalian tidak tidur barang sekejap mata pun. Apa kalian sudah mematuhinya?”

 “Sudah, Paman.”

 “Sudah, Guru.”

 “Sekarang ini kalian tentu mengantuk sekali.”

 “Ehh, ya tentu saja, Paman. Tapi saya berusaha untuk tidak tidur walaupun mata rasanya seperti dibubuhi tumbukan cabe rawit saking pedasnya." jawab Arya Kamandanu sambil mengerjapkan matanya.

"Kalian tentu malas berlatih malam ini. Sungguh nyaman sekali rasanya untuk tidur dalam keadaan kantuk seperti ini. Nah, marilah ikut aku.”

 “Ke mana, Guru?" tanyaWirot penasaran.

"Ke tempat tidur," jawab Mpu Ranubhaya seraya membalikkan tubuhnya menuju suatu tempat. Langkahlangkahnya diikuti Wirot dan Arya Kamandanu yang sesekali saling berpandangan tak mengerti apa yang dikehendaki oleh gurunya yang dianggap aneh sekali.

..:::::...:::::>>>> bersambung di bawah ...
« Edit Terakhir: Januari 21, 2012, 06:46:11 PM oleh 3ndiixz »

Offline 3ndiixz

  • Admin
  • Pro500
  • *****
  • Tulisan: 1.534
  • Reputation: 947
  • Jenis kelamin: Pria
  • .:: DOCTOR PENDIK ::.
    • Lihat Profil
    • PENDIK ASYIK KOMPUTER
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #6 pada: Januari 21, 2012, 05:16:47 PM »
..:::::...:::::>>>> sambungan dari atas ...

Mereka menuju suatu tempat agak jauh di balik gua batu payung di mana selama ini mereka berlatih dan digembleng.

Tempat itu sunyi sekali. Kegelapan menyelimuti tempat yang ditumbuhi oleh semak belukar dan bambu petung.

Suara burung malam membuat bulu kuduk berdiri.

 Suaranya ditingkahi kepak sayap kelelawar dan jeritan suaranya yang mencericit bercengkerama dengan pasangannya. Di tempat itulah lelaki tua itu berhenti dan membalikkan tubuh memandang kedua muridnya yang sejak tadi hanya menunggu dengan diam.

"Bagi mereka yang tidak sedang belajar olah kanuragan, tempat tidur yang nyaman adalah sebuah kasur yang empuk, uang dipasang di atas ranjang kayu jati berukir.

Tapi bagi mereka yang ingin menguasai ilmu Seipi Angin, tempat tidur yang paling baik adalah sebatang petung, yang tingginya melebihi pohon kelapa.? "Ehh, maksud Guru?" tanya Wirot dengan dahi beranyam kerutan.

Tetapi lelaki tua itu tidak segera menjawab. Hanya desah napas dan kepalanya yang mengangguk-angguk. Bibirnya menyungging senyuman dan matanya menyipit.

Pandangannya beralih pada sebatang pohon bambu petung yang sudah tua dan setinggi pohon kelapa.

"Maksudku pergunakanlah sebatang bambu ini untuk tidur malam ini. Hmmh, masih belum jelas? Kalian berdua naik ke atas pohon bambu ini, sampai ke ujungnya yang paling tinggi. Nah, peluklah batang pohon bambu itu sambil berusahalah untuk tidur di atas sana.”

 “Oh. Bagaimana... bagaimana itu mungkin, Guru?" tanya Wirot dengan nada cemas dan mohon pengertian.

Kemudian lelaki tua itu memandangWirot sangat tajam.

"Tak ada yang tak mungkin. Kalian coba saja dulu apa yang kukatakai ini. Kalau tak ingin jatuh, kalian tak boleh tidur terlalu lelap. Bagaimana, Kamandanu? Apalagi yang kau tunggu?”

 “Ehh, ba... aaiklah, Paman. Saya akan menuruti perintah Paman Ranubhaya. Saya akan tidur di atas pucuk pohon bambu ini." Kemudian tanpa ragu-ragu lagi Arya Kamandanu merayap menaiki sebatang bambu petung yang cukup besar.

Ia memanjat bagai seekor monyet. Cepat dan trengginas.

Kedua tangannya mencengkeram batang bambu, sedangkan kedua ujung jemari kakinya memanjat batang bambu itu jika tidak ingin terpeleset. SebaliknyaWirot masih bimbang.

Sejenak lamanya ia hanya diam mematung, terpaku memandang Arya Kamandanu yang sudah hampir mencapai pucuk petung.

Terdengar suara kerusek dan kerosak setiap kali tubuh Arya Kamandanu menyentuh daun-daun bambu itu. Ketika Arya Kamandanu sudah mencapai pucuk pohon petung itu, barulah Wirot perlahan-lahan memanjat pohon bambu petung itu. Berkali-kali ia berdecak kesal. Ia sama sekali belum mengerti apa yang dikehendaki Mpu Ranubhaya memintanya tidur di pucuk bambu. Untuk kesekian kalinya ia menganggap gurunya sangat aneh.

Pada pucuk pohon bambu petung itu, Arya Kamandanu mulai merasakan kantuk serta angin malam membuatnya cukup menggigil. Ia belum bisa memejamkan mata.

Hatinya semakin cemas dan berdebar-debar ketika matanya terbuka dan memandang ke bawah. Tetapi ia berusaha untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya Demikian halnya dengan apa yang dialami oleh Wirot.

Jejaka tua itu tubuhnya sangat menggigil oleh kedinginan dan rasa cemas.

Keringat dinginnya mengalir dan membasahi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar ketakutan sekali ketika kembali memandang ke bawah.

"Ohh, tinggi juga batang bambu ini. Oh, kalau jatuh ke bawah sana bisa remuk tulang-tulangku Apa maksud Guru memberi pelajaran seperti ini? Jangan-jangan Guru hanya main-main. Soalnya aku tahu watak guruku. Di samping suka angin-anginan, dia juga senang bercanda, senang bermain-main." Wirot menguap lebar karena kantuk menguasainya. Tapi ia tidak mungkin bisa tidur dengan cara seperti monyet di atas pohon. Ia juga merasakan kedua kakinya sudah kaku karena takut. Ia tak merasakan apa-apa lagi. Keringat dingin sudah membasahi pakaiannya. Ia makin cemas, takut dan khawatir jika jatuh. Ia ragu jika bisa bertahan di atas pohon sampai pagi. Ia mulai menggigil.

"Saya tidak sanggup. Saya, saya masih mau hidup." Wirot merasakan sesuatu yang hangat mulai mengalir, membasahi paha dan celananya. Sekujur tubuhnya benarbenar menggigil. Sedikit pun ia tidak bisa memicingkan matanya sekalipun perasaan mengantuk luar biasa menyerangnya. Bahkan ia tidak ada niat melanjutkan lakunya untuk mempelajari apa yang diajarkan gurunya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk turun. Ia tidak mempedulikan petunjuk gurunya yang kini tak ada di bawah. Wirot benar-benar semakin jengkel pada Mpu Ranubhaya. Napasnya terengah-engah saat kakinya menginjak tanah. Ia menghela napas sedalam-dalamnya kemudian dihempaskannya napas itu dengan menggelembungkan kedua pipinya. Kedua tangannya mengurut dada, kepalanya menggeleng-geleng dan rasa pening mulai merayapi keningnya. Jejaka tua itu sesaat memandang ke arah Arya Kamandanu yang kelihatan berusaha tidur di pucuk pohon bambu petung. Ia tersenyum karena pemuda itu pun kelihatan gelisah.

Wirot akhirnya melangkahkan kakinya menuju dalam gua setelah mengibas-ngibaskan pakaiannya yang berbau pesing. Ia yakin gurunya diam di dalam gua untuk bersemadi.

Suasana di dalam gua batu payung itu sangat gelap gulita. Pelita minyak yang biasa tergantung di dinding sudut gua tidak menyala. Wirot yakin, bahwa gurunya sengaja mematikan pelita itu untuk mendukung suasana semadinya.

Suara tetes-tetes air terdengar mengerikan dalam pendengaran Wirot. Baru saja ia akan membaringkan tubuhnya pada sebuah lempengan batu pipih selebar meja yang terdapat dalam ruangan gua itu, ia sangat terkejut.

Terdengar suara gurunya menegurnya.

"Bagaimana, Wirot? Mengapa kau turun? Apakah kau sudah tidur terlelap di atas tempat tidurmu?”

 “Ehh, ampun Guru. Saya tidak sanggup.”

 “Ahh, Wirot. Kau adalah satu-satunya muridku yang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri Sekarang aku tahu, mengapa aku tidak mewariskan ilmu yang lebih tinggi selain pukulan dua belas jurus.”

 “Mungkin, mungkin Guru menganggap saya kurang berbakat.”

 “Yah. Ilmu yang tinggi harus diimbangi dengan wadah yang memadai. Sebab kalau tidak, orang yang bersangkutan bisa menjadi korban ilmu tersebut. Ilmu tidak bisa dipaksakan. Di samping itu ilmu cocok-cocokan dengan orangnya.”

 “Ehh, maaf, Guru. Saya masih belum mengerti mengenai Aji Seipi Angin ini. Ehh, maksud saya, mengapa harus melalui tidur di atas pohon bambu segala? Apa hubungannya dengan meringankan tubuh?”

 “Dengan kata lain, kau masih meragukan apa yang kukatakan? Nah, mari ikutlah aku. Kau nanti akan melihat sendiri, bagaimana ampuhnya kekuatan yang ditimbulkan dalam diri manusia, yang mampu mengatasi ujian berat di atas pucuk pohon bambu." Kemudian lelaki tua itu bangkit tanpa memperhatikan lagi Wirot yang meringis karena risih dengan celananya yang basah kuyup oleh keringat dingin dan air kencing.

Mpu Ranubhaya yang sudah terlatih dengan suasana kegelapan dalam gua itu melangkah dengan tenangnya. Ia lalu membawa Wirot ke tempat di mana Arya Kamandanu masih tergantung di atas pucuk pohon bambu.

Dari bawah tampak Arya Kamandanu bagaikan seekor kalong yang besar, yang terperangkap jaring seorang pemburu.

Malam semakin mencekam. Gemerisik angin yang mendera daun-daun bambu terdengar bagaikan tangisan hantu-hantu malam.

Wirot mengikuti gurunya ketika lelaki tua itu memandang ke pucuk bambu petung di mana Arya Kamandanu masih menggelantung di sana.

"Ohh, luar biasa Angger Kamandanu. Dia masih mampu bertahan di pucuk pohon bambu," gumamMpu Ranubhaya seperti pada diri sendiri. Lalu ia memandang Wirot yang berdiri seperti tikus di depan kucing.

"Ketahuilah, Wirot! Anak Hanggareksa ini mempunyai bakat besar di dalam hal olah kanuragan “

 “Saya khawatir dia nanti terjatuh, Guru. Saya sendiri merasakan betapa beratnya ujian ini. Kaki saya sampai kehilangan rasa, tangan-tangan saya seperti kejang!”

 “Sudahlah, Wirot. Nanti akan kausaksikan sendiri sebuah tontonan keajaiban yang langka. Tapi kalau kau sekarang ingin tidur, tentu kau tak akan melihatnya." Kemudian lelaki tua itu membisu seribu bahasa sambil memandang Arya Kamandanu yang menggelantung di pucuk pohon bambu.

 

Wirot yang memandang pun merasa merinding bulu kuduknya karena ia sendiri tidak kuat menahan ujian yang sangat berat seperti itu.

Terdengar kerusek dan kerosak binatang malam mendera dan menyibak dedaunan bambu disusul dengan suaranya yang menyayat mengerikan.'Hal itu mengejutkan Arya Kamandanu yang berusaha mati-matian memerangi kekejangan kaki dan tangannya. Tangan dan kakinya semutan dan benar-benar mati rasa. Ia pun merintih sambil perlahan membuka kelopak matanya.

"Ohh, kakiku... kakiku sudah mengejang semuanya.

Mengejang sampai ke jari-jari kaki Ohh... apakah aku akan bisa lulus dari ujian berat ini? Bagaimana kalau aku sampai terlelap? Tentu tubuhku akan hancur berantakan di bawah sana." Mata Arya Kamandanu sudah terasa berat dan pedih. Matanya ingin menutup saja. Berat sekali ia rasakan membuka kelopak mata. Ia menggigil dan tubuhnya gemetar.

Bagaimanapun juga Arya Kamandanu mencoba untuk bertahan, akhirnya terlena juga. Seperti terkena panah Aji Sirep yang dahsyat, mendadak Arya Kamandanu merasa terlelap, dengan kelopak matanya tetap terbuka, tapi kedua belah tangannya terlepas. Tubuhnya terperosok seiring bunyi kerosak panjang. Tubuh pemuda itu melayang-layang di udara sebelum akhirnya terhempas dan tercampak di semak belukar dan tanaman liar.

Wirot matanya melotot penuh kecemasan lalu ia berlari menghampiri tubuh Arya Kamandanu yang tergeletak di semak-semak. Mulutnya setengah menganga sambil memekik memanggil Mpu Ranubhaya yang belum bergeming dari tempatnya berdiri.

"Guru, Guru, bagaimana dengan Angger Kamandanu?!" serunya dengan suara parau karena cemas dan ketakutan.
 

@@@
 

Bersambung ke Novel TUTUR TINULAR 4 - Lembah Berkabut (1)
« Edit Terakhir: Januari 21, 2012, 06:45:09 PM oleh 3ndiixz »

Offline acongg

  • Pro200
  • *****
  • Tulisan: 494
  • Reputation: 444
  • Jenis kelamin: Pria
  • si anak bandel
    • Lihat Profil
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #7 pada: Januari 21, 2012, 05:23:41 PM »
kepanjangan boss males bacanya bikin ngantuk  =)) =)) =)) =)) =)) =))
Ane sih anaknya asik-asik aja bro... Biar jelek tapi eksis!! PEDE aja lagi!

Offline ViperGM

  • Pro500
  • ******
  • Tulisan: 3.352
  • Reputation: 64108
  • Jenis kelamin: Pria
  • Visual Basic
    • Lihat Profil
    • Daftar Situs Pasang Iklan Gratis Tanpa Daftar
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #8 pada: Januari 21, 2012, 05:30:25 PM »
@acongg :: Setuju gw bro ^^ hehe ...

di sambung aja bro postnya ...
jangan di pisah" gitu ..
ntar d kira junk lho ..
klo d pisah bisa menggunakan :  ==================== (gaya saya ^^)

Offline acongg

  • Pro200
  • *****
  • Tulisan: 494
  • Reputation: 444
  • Jenis kelamin: Pria
  • si anak bandel
    • Lihat Profil
Re: Wahhhh..... TUTUR TINULAR... ASYIK cuuueeeyyyyy
« Jawab #9 pada: Januari 21, 2012, 05:38:16 PM »
spasinya 1 aja bosss  ;D
Ane sih anaknya asik-asik aja bro... Biar jelek tapi eksis!! PEDE aja lagi!